
SURABAYA, Jawa timur / tnews.co.id – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga dan Aliansi Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Negara Grahadi, Jalan Gubernur Suryo, Surabaya, pada rabo, 17 Juni 2026 siang.

Aksi yang berlangsung secara bergantian tersebut diikuti sekitar +-150 mahasiswa dari BEM Universitas Airlangga dengan penanggung jawab M. Rizqi Senja Virawan, serta sekitar -+100 mahasiswa dari Aliansi Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur yang dikoordinatori oleh Chrosto.
Sebelum pelaksanaan aksi, pada pukul 11.00 WIB dilaksanakan apel dan pengarahan pengamanan yang dipimpin oleh Wakapolrestabes Surabaya, AKBP Rosyid Hartanto, S.H., S.I.K., M.H. Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh personel yang terlibat dalam pengamanan guna memastikan aksi berjalan aman, tertib, dan kondusif.
Dalam pengamanan aksi, aparat gabungan dari Polrestabes Surabaya, Polda Jawa Timur, Polsek jajaran, Satpol PP Provinsi Jawa Timur, Dinas Pemadam Kebakaran Kota Surabaya, serta tim medis dan ambulans diterjunkan di lokasi.

Personel pengamanan terdiri dari unsur Raimas dan Samapta, Brimob Polda Jatim dengan dukungan dua SSK PHH, kendaraan AWC dan Barracuda, Dalmas Ditsamapta, unit K-9, kendaraan barrier, tim negosiator Polwan, Intelkam, Lantas, Humas, Provost, serta dukungan ambulans dari Sidokkes Polrestabes. Selain itu, Satpol PP Provinsi Jawa Timur mengerahkan 15 personel, sedangkan Dinas Pemadam Kebakaran Kota Surabaya menyiagakan tiga unit kendaraan beserta 10 personel.
Dalam aksinya, massa mahasiswa menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pemerintah. Mereka mendesak penghentian Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang dinilai membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Selain itu, massa menuntut pencabutan Undang-Undang Polri dan Undang-Undang TNI yang dianggap berpotensi menghidupkan kembali praktik militerisme dan dwifungsi di ranah sipil. Mahasiswa juga menyuarakan penolakan terhadap berbagai bentuk pendekatan militeristik dalam penegakan hukum maupun kehidupan demokrasi sipil.
Isu ekonomi turut menjadi sorotan dalam aksi tersebut. Massa menuntut pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menurunkan harga BBM non-subsidi yang dinilai memicu kenaikan harga kebutuhan pokok dan inflasi.
Mereka juga mendesak pemerintah memperkuat nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat guna menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.
Selama aksi berlangsung, aparat keamanan melakukan pengawalan dan pengamanan secara humanis melalui pendekatan persuasif serta negosiasi dengan koordinator lapangan. Hingga kegiatan berakhir, situasi di sekitar Gedung Negara Grahadi terpantau aman, tertib, dan kondusif.
( Hadi ).