Djangkung Pudhak Setegal, “Pamor Pendaringan Kebak”

waktu baca 2 menit
Jumat, 7 Agu 2026 12:09 3 Admin

SURABAYA, Jawa Timur // tNews.co.id – Malam ini aku kembali memandang Djangkung Pudhak Setegal dengan pamor Pendaringan Kebak.

Entah mengapa, semakin lama aku berjalan dalam kehidupan, semakin aku merasa bahwa menjadi “tinggi” bukanlah tentang seberapa jauh kita berada di atas orang lain.

Djangkung justru mengingatkanku untuk bertumbuh tinggi dalam kesadaran—agar semakin jauh perjalanan, semakin luas cara memandang kehidupan dan semakin rendah hati menjalani semuanya.

Lalu Pudhak Setegal.

Aku membayangkan bunga pudhak terhampar sejauh mata memandang. Ia tidak pernah meminta siapa pun mencium harumnya. Ia hanya berbunga, dan keharumannya menyebar dengan sendirinya.

Aku jadi bertanya kepada diriku malam ini:

Sudahkah perjalanan hidupku meninggalkan keharuman, atau aku masih terlalu sibuk ingin dikenali?

Mungkin kebaikan yang paling murni memang seperti bunga.

Berbuat baik, lalu melepaskan.
Memberi, lalu melupakan.
Mencintai, tanpa menghitung apa yang kembali.

Dan Pendaringan Kebak, pendaringan yang penuh, malam ini terasa bukan sekadar simbol kemakmuran.

Ia seperti mengingatkanku tentang sesuatu yang selama ini justru paling sulit:

merasa cukup.

Aku menarik napas perlahan.

Untuk sesaat tidak ada yang perlu kukejar.

Tidak ada yang harus kubuktikan.

Tidak ada masa lalu yang harus kuubah, dan tidak ada hari esok yang harus kukuasai.

Hanya napas ini.

Dan kesadaran bahwa aku masih diberi kesempatan untuk hidup.

Mungkin inilah kekayaan yang sering terlupakan.

Semakin malam aku memahami bahwa ketiganya seperti satu perjalanan:

Djangkung — bertumbuhlah tinggi dalam kesadaran.
Pudhak Setegal — tebarkan keharuman tanpa meminta dikenali.
Pendaringan Kebak — belajarlah merasa cukup di tengah kelimpahan.

Malam ini aku tidak ingin meminta kehidupan memberiku lebih banyak.

Aku hanya ingin belajar menjadi lebih sadar terhadap apa yang sebenarnya sudah diberikan.

Sebab mungkin kedamaian bukanlah ketika akhirnya aku memiliki semuanya.

Kedamaian adalah ketika hati mampu berkata:
“Yang ada saat ini pun sudah cukup untuk kusyukuri.”

Lalu biarlah hidup ini seperti Pudhak Setegal.

Tidak perlu banyak bicara tentang kebaikan.

Cukup berbunga… dan biarkan keharumannya berjalan sendiri.

Selamat malam, teman seperjalanan.

— Rivo Cahyono & Teman Seperjalanan

LAINNYA
error: Content is protected !!