
Caption : Berawal dari pengalaman salah memahami keris , Rivo Cahyono kini mendorong sertifikasi kuratorial untuk menjaga identitas dan pengetahuan pusaka lintas generasi.

SURABAYA, Jawa Timur // tNews.co.id — Sebilah keris mungkin dapat bertahan ratusan tahun. Pusaka itu dapat diwariskan dari ayah kepada anak, dari kakek kepada cucu, atau berpindah tangan dari satu kolektor kepada kolektor lainnya.
Namun, tidak selalu demikian dengan pengetahuan yang menyertainya.
Nama dhapur, pamor, tangguh, filosofi, riwayat, hingga cerita di balik sebuah pusaka dapat perlahan menghilang ketika keris berpindah tangan. Pada akhirnya, yang tersisa bisa saja hanya sebuah benda tanpa catatan lengkap mengenai identitas dan perjalanan budayanya.
Berangkat dari persoalan itulah NRA Rivo Cahyono, pendiri Yayasan Ethnic Indonesia Berbagi mengembangkan layanan sertifikasi kuratorial keris dan Tosan Aji yang dipadukan dengan sistem dokumentasi digital.
Melalui konsep “Lestarikan Pusaka, Jaga Martabat Budaya”, Ethnic Indonesia menawarkan upaya pendokumentasian yang tidak hanya berfokus pada benda fisik, tetapi juga pada pengetahuan yang melekat di balik sebuah pusaka.
Disinilah peran penting dari Sertifikat kuratorial yang memuat identifikasi dan hasil kajian terhadap keris, mulai dari dhapur, pamor, tangguh atau estimasi periodisasi, perabot keris, dokumentasi visual hingga nomor identifikasi.
Dalam prosesnya, sebuah pusaka yang diajukan untuk sertifikasi akan melalui kajian kuratorial.
Untuk memberikan proses kajian yang lebih berlapis, sertifikat tersebut ditandatangani oleh tiga kurator keris yang memiliki sertifikat kompetensi BNSP.
Ketiganya adalah Ilham Triadi dengan Nomor Registrasi BNSP KRS. 2457 00056 2025, Hario Herlambang dengan Nomor Registrasi BNSP KRS. 2457 00005 2024, serta KRA Rivo Cahyono dengan Nomor Registrasi BNSP KRS. 2457 00278 2025.
Keterlibatan tiga kurator tersebut menjadi bagian dari upaya membangun dokumentasi koleksi secara lebih terstruktur dan berlapis.
Ethnic Indonesia menempatkan sertifikat kuratorial sebagai dokumen hasil kajian berdasarkan objek dan kondisi pusaka ketika diperiksa.
Seiring perkembangan pengetahuan mengenai keris, hasil kajian tersebut juga tetap membuka ruang bagi koreksi, perkembangan pengetahuan, dan penelitian lebih lanjut.
Dengan demikian, sertifikat tidak dimaksudkan untuk menghentikan proses kajian terhadap sebuah pusaka, melainkan menjadi bagian dari jejak dokumentasi yang dapat terus dikembangkan.
Ketika Sertifikat Tidak Lagi Sekadar Selembar Dokumen
Salah satu bagian penting dalam konsep yang dikembangkan Ethnic Indonesia adalah penggunaan QR Code pada sertifikat kuratorial.
Melalui kode tersebut, pemilik dapat mengakses halaman informasi digital mengenai pusaka yang bersangkutan.
Informasi digital dapat memuat penjelasan yang lebih luas, mulai dari filosofi dhapur, filosofi pamor, penjelasan ricikan, periodisasi atau tangguh, dokumentasi foto, nomor identifikasi hingga berbagai informasi pendukung lainnya.
Dengan konsep tersebut, sertifikat tidak berhenti sebagai selembar dokumen fisik.
Satu pusaka diharapkan memiliki identitas, satu sertifikat, dan satu jejak dokumentasi yang dapat ditelusuri kembali.
“Konsep ini memberikan alternatif bagi kolektor untuk tidak hanya menyimpan benda pusaka secara fisik, tetapi juga memiliki arsip digital yang dapat membantu proses pendokumentasian dan penyampaian informasi kepada generasi berikutnya,” jelas Rivo.
Bagi Ethnic Indonesia, digitalisasi dokumentasi menjadi penting karena perjalanan sebuah pusaka tidak berhenti pada pemilik saat ini.
Keris dapat diwariskan kepada anak dan cucu. Pusaka juga dapat berpindah kepada kolektor lain. Dalam perjalanan panjang tersebut, informasi yang menyertainya berpotensi hilang jika tidak dicatat dan disimpan secara sistematis.
Karena itu, dokumentasi digital diharapkan dapat menjadi jejak pengetahuan yang tetap menyertai sebuah pusaka, bahkan ketika benda tersebut telah berpindah tangan.
Layanan sertifikasi kuratorial tersebut juga tidak hanya diperuntukkan bagi keris yang berasal dari koleksi Ethnic Indonesia.
Masyarakat dan para kolektor dapat mengajukan koleksi keris maupun Tosan Aji miliknya untuk dikaji, didokumentasikan, dan diterbitkan sertifikat kuratorial.
Layanan tersebut terbuka bagi kolektor pemula hingga kolektor senior.
Bagi kolektor pemula, keberadaan dokumentasi dan kajian kuratorial diharapkan dapat menjadi salah satu pintu untuk memahami koleksi yang dimiliki. Sementara bagi kolektor yang telah lama berkecimpung dalam dunia pusaka, sistem tersebut dapat membantu membangun arsip koleksi yang lebih tertata.
Dalam materi layanan yang ditawarkan, Ethnic Indonesia menempatkan empat manfaat utama dalam proses sertifikasi kuratorial, yakni kajian profesional, dokumentasi lengkap, sertifikat resmi, serta upaya menjaga identitas pusaka.
Namun, gagasan untuk membangun sistem tersebut ternyata tidak lahir begitu saja.
Di balik layanan yang kini dikembangkan Ethnic Indonesia, terdapat perjalanan pribadi Rivo Cahyono sebagai seorang kolektor.
Berawal dari Kebingungan Memahami Keris
Pada masa awal mengoleksi keris, Rivo pernah berada pada posisi yang mungkin juga dialami banyak kolektor pemula.
Satu pusaka dapat memperoleh penjelasan yang berbeda ketika ditanyakan kepada orang yang berbeda. Penilaian mengenai dhapur, pamor, tangguh hingga perkiraan periodisasi dapat berubah tergantung kepada siapa pertanyaan tersebut diajukan.
Kebingungan itu kemudian menjadi awal dari perjalanan panjangnya untuk belajar.
“Semakin lama mengoleksi, saya justru semakin sadar bahwa masih banyak yang harus dipelajari. Keris bukan hanya benda untuk dimiliki, tetapi warisan budaya yang harus dipahami dan didokumentasikan.”
Kesadaran tersebut membawanya memperdalam pengetahuan mengenai keris dan Tosan Aji.
Bersamaan dengan proses belajar itu, melalui Ethnic Indonesia, Rivo juga secara konsisten membiayai dan memproduksi berbagai konten budaya, khususnya mengenai keris dan Tosan Aji, agar pengetahuan tentang pusaka Nusantara dapat lebih mudah dikenal masyarakat.
Namun perjalanan belajar itu tidak selalu berjalan mulus.
Kegagalan Guru Termahal dalam Ujian Kurator
Rivo kemudian mengikuti proses sertifikasi kompetensi kuratorial keris.
Pada ujian pertamanya, ia belum berhasil dinyatakan kompeten.
Kegagalan tersebut tidak membuatnya berhenti. Sebaliknya, pengalaman itu menjadi dorongan untuk kembali belajar dan memperdalam pengetahuan.
Pada kesempatan berikutnya, ia kembali mengikuti proses pengujian dan akhirnya berhasil dinyatakan kompeten serta memperoleh sertifikat kompetensi BNSP.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Rivo sebagai kolektor sekaligus pegiat pelestarian pusaka.
“Saya pernah salah memahami keris dan pernah tidak lulus ujian kurator. Bagi saya itu bukan sesuatu yang perlu ditutupi. Justru perjalanan itulah yang membuat saya terus belajar.”
Dari pengalaman pribadi itulah kemudian muncul gagasan untuk menghadirkan sistem dokumentasi yang lebih terstruktur bagi para kolektor.
Pengalaman pernah bingung memahami keris, mendapatkan beragam penjelasan terhadap satu pusaka, hingga pernah gagal dalam proses sertifikasi, menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk cara pandangnya terhadap pentingnya belajar dan mendokumentasikan pengetahuan.
Menurut Rivo, pengalaman sebagai kolektor pemula membuatnya memahami pentingnya ruang belajar yang sehat dalam dunia perkerisan.
“Saya pernah berada di posisi kolektor pemula yang bingung harus bertanya kepada siapa dan mengapa penjelasan mengenai keris yang sama bisa berbeda-beda. Karena itu, saya ingin Ethnic Indonesia menjadi salah satu tempat di mana orang tidak hanya datang untuk memiliki keris, tetapi juga untuk belajar memahami apa yang dimilikinya.”
Menjaga Benda, Menjaga Pengetahuan
Pelestarian pusaka pada akhirnya bukan hanya persoalan menjaga kondisi fisik sebuah benda.
Sebilah keris mungkin dapat disimpan dengan baik di dalam warangka dan tempat penyimpanan yang aman. Namun tanpa pengetahuan mengenai identitas, filosofi, karakteristik, dan konteks budayanya, sebagian nilai yang melekat pada pusaka tersebut dapat perlahan menghilang.
Rivo menilai pusaka merupakan bagian dari kekayaan budaya yang membawa lebih dari sekadar nilai material.
“Pusaka merupakan bagian dari kekayaan budaya yang tidak hanya memiliki nilai material, tetapi juga dapat menyimpan cerita, simbol, filosofi, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di tengah perkembangan teknologi digital, pendokumentasian menjadi semakin penting agar informasi mengenai sebuah koleksi tidak hilang dan dapat ditelusuri kembali pada masa mendatang,”tutup Rivo
Melalui sertifikasi kuratorial dan dokumentasi digital, Ethnic Indonesia mencoba membangun sebuah gagasan sederhana yakni menjaga pusaka tidak cukup hanya dengan menyimpan bendanya.Pengetahuan yang menyertainya juga perlu dijaga.
Sebab, sebuah keris dapat bertahan ratusan tahun dan berpindah tangan berkali-kali. Namun cerita, identitas, dan pengetahuan yang melekat di dalamnya bisa hilang hanya dalam satu generasi.
“Kerisnya mungkin akan berpindah tangan, tetapi pengetahuannya jangan sampai ikut hilang.”
Itulah semangat yang ingin dibangun Ethnic Indonesia melalui sertifikasi kuratorial dan dokumentasi digital pusaka.@
( Redaksi).
ETHNIC INDONESIA
Lestarikan Pusaka, Jaga Martabat Budaya.