Religi

Bukit Surowiti Diyakini Warga Gresik Sebagai Makam Sunan Kalijaga

GRESIK || tNews.co.id – Bukit Surowiti di Desa Surowiti, Kecamatan Panceng. Jaraknya sekitar 40 kilometer dari Kota Gresik, terdapat makam yang oleh warga setempat diyakini sebagai makam Sunan Kalijaga,

Selama ini, yang saya tahu, makam Sunan Kalijaga berada di Kadilangu, Demak, Jawa Tengah.

Mendengar hal tersebut redaksi tNews.co.id menuju tempat tersebut, Tak sulit menemukan bukit ini. Di jalan utama jalur Pantura dari arah Sidayu, di sisi kiri jalan berdiri tulisan Bukit Surowiti dengan huruf berukuran besar. Sebelum tulisan tersebut, terdapat pertigaan. Saya pun belok kiri, kemudian mengikuti beberapa papan petunjuk arah yang ada. Sekitar 15 menit kemudian, saya sampai di tempat parkir Bukit Surowiti yang dijaga oleh beberapa pemuda setempat.

Sebagai salah satu objek wisata religi di Gresik, lokasi ini tak sepi. Ada beberapa pengunjung lain yang juga ingin naik ke puncak bukit. Jalan naik bukit telah dibangun berupa tangga beton. Meniti ratusan anak tangga ini ternyata sukses memeras keringat dan membuat napas saya sedikit tersengal. Beberapa kali saya harus beristirahat sembari menikmati view lahan persawahan dari ketinggian.

Bagi warga Desa Surowiti, menaiki ratusan anak tangga berliku itu sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Motor pun bisa mereka pacu di sisi tangga yang memang dibangun untuk jalan motor. Namun, bagi yang tidak terbiasa, mengendarai motor dengan medan seperti ini cukup berbahaya. Bukan hanya menanjak, tangga itu juga berliku dan sempit.

Sampai di puncak bukit, ternyata terdapat kampung kecil dengan rumah-rumah yang saling berdekatan. Seperti kampung – kampung lainnya, banyak ibu dan anak yang beraktivitas di depan rumah masing-masing. Dengan ramah, mereka menjawab pertanyaan saya tentang apa saja yang ada di Bukit Surowiti ini.

“Lurus saja, Mas, nanti di ujung sana ada Makam Sunan Kalijaga. Ada gua juga,” ujar seorang ibu yang sedang bercengkerama dengan keluarganya.

Pertanyaan saya, Makam Sunan Kalijaga? Saya sempat menyangsikan jawaban si ibu. Setahu saya, makam Sunan Kalijaga yang pernah saya ziarahi ada di Kadilangu, Demak. Rasa penasaran saya membuat langkah kaki saya semakin ringan untuk mendekati sebuah bangunan tua bergapura sederhana itu. Begitu melewati gapura makam, rasa penasaran saya pun mulai terjawab. Di sana terdapat bangunan bertuliskan Pesarean Sunan Kalijaga (Raden Said). Dalam bahasa Jawa, pesarean berarti makam.

Hanya dibuka pada hari Kamis, Tulisan inilah yang sempat membuat saya tercengang, Tampak seorang perempuan tua sedang menyapu lantai bangunan serupa pendapa kecil itu. Kebetulan, pikir saya, saya ingin bertanya kepada sang nenek yang tampaknya menjadi penjaga makam tersebut. Bagaimana bisa ada makam Sunan Kalijaga di Bukit Surowiti ini? Dengan terbata-bata, sang nenek menjawab, “Memang yang diziarahi banyak orang ya yang di Demak sana, Mas. Tapi sejak dulu kami meyakini bahwa yang di sini ini adalah makam Sunan Kalijaga,” kata si Nenek.

Menurut sang nenek (saya menyesal lupa bertanya nama beliau), masyarakat Desa Surowiti tak ingin ada konflik antara pemangku makam Sunan Kalijaga di Bukit Surowiti dengan pemangku Makam Sunan Kalijaga di Demak. Karena itu, mereka rela jika ada yang beranggapan bahwa makam di Desa Surowiti ini hanyalah petilasan Sunan Kalijaga. “Jadi hubungan sini (pengelola makam Sunan Kalijaga di Bukit Surowiti) dengan pihak (pengelola makam Sunan Kalijaga di) Demak sangat baik,” ujarnya.

Menurut si nenek, dahulu Sunan Kalijaga pernah menyinggahi Bukit Surowiti untuk mendalami ilmu agama melalui gurunya, Sunan Bonang. Di Bukit Surowiti pula, Sunan Kalijaga berdakwah dan menjalin hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan yang berkuasa pada saat itu. Selain itu, Sunan Kalijaga juga berdakwah dengan pendekatan yang mudah diterima masyarakat Hindu saat itu, yaitu kesenian Jawa.

Bangunan makam Sunan Kalijaga di Bukit Surowiti ini dikelilingi pagar batu setinggi dada orang dewasa. Terdapat gapura tua sebagai satu-satunya jalan masuk menuju kompleks makam. Bangunan tersebut terbuat dari kayu dan beratap seng. Sebagai situs bersejarah, bangunan ini tampak sangat sederhana. Makam Sunan Kalijaga terdapat di sisi kiri bangunan dengan gapura putih dan pintu berwarna hijau. Sayangnya, saya tak bisa masuk ke dalam bangunan utama makam tersebut. Menurut nenek penjaga makam, pintu tersebut hanya dibuka pada hari Kamis.

Tepat di depan gapura kompleks makam Sunan Kalijaga, terdapat papan petunjuk informasi tentang Gua Langsih. Sekitar 150 meter jalan kaki, saya bertemu dengan dua ibu separo baya yang langsung menyapa saya. Menurut salah satu dari dua ibu itu, banyak pengunjung yang datang ke Gua Langsih untuk bertapa. Meski sama sekali tidak tertarik untuk bertapa, saya penasaran melihat dari dekat seperti apa bentuk gua yang kabarnya pernah menjadi lokasi pertapaan Sunan Kalijaga dan tempat sidang Wali Songo sekitar tahun 1463 ini.

Tangga turun menuju Gua Langsih

Bebatuan terjal menuju Gua Langsih, Setelah memberi uang seikhlasnya kepada dua ibu tersebut, saya mencoba mengintip pintu gua yang berada di balik bebatuan besar di tepi tebing itu. Niat saya untuk masuk gua tiba-tiba menguap setelah tahu bahwa saya saat itu adalah satu-satunya pengunjung gua. Apalagi, gua sangat gelap dan sempit. Bukan hanya itu. Untuk masuk ke perut gua, pengujung harus turun melewati tangga kayu. Kedalamannya sekitar tujuh meter. Bebatuan seperti menghimpit tangga tersebut. Saya pun tak yakin tubuh saya muat masuk ke dalam gua.

Pintu Gua Langsih yang sangat sempit, Begitu saya balik kanan, ternyata ada empat anak remaja yang baru datang dan berniat masuk gua. Nah, merasa ada orang lain yang punya tujuan sama, nyali saya pun kembali muncul. Bersama mereka, saya pun menuruni anak tangga masuk ke gua. Ternyata benar, badan saya sempat kesulitan melewati lorong sempit itu karena terhimpit bebatuan di sepanjang lorong gua. Untungnya saya akhirnya sukses sampai di dasar gua. Ternyata, bagian dalam gua itu sangat gelap. Satu lampu di atap gua sama sekali tak mampu menerangi ruang gua yang sempit itu. Semakin masuk, ruang gua semakin sempit dan gelap. Dinding yang basah menyebabkan suasana semakin pengap.

Bagian dalam Gua Langsih

Empat bocah yang bersama saya masuk Gua Langsih, Saya pun tak berlama-lama berada di dalam gua. Begitu berhasil keluar mulut gua, saya beristirahat untuk menghirup udara segar. Badan yang penuh peluh pun terasa segar setelah tersapu angin. Beberapa menit kemudian, saya berniat pulang. Ternyata, Pemerintah Desa Surowiti selaku pengelola objek ini menyediakan dua jalur yang bisa dilalui para pengunjung. Supaya tahu semua sisi Bukit Surowiti, saya pulang melalui jalur yang lain. Sepanjang jalan pulang itu, pemandangan yang tersaji adalah tebing tinggi di sisi kiri dan pemandangan lahan pertanian dari ketinggian.

Selain makam Sunan Kalijaga, di kompleks itu juga terdapat makam-makam kuno lainnya. Di antaranya, makam Empu Supo, putra Tumenggung Majapahit Empu Supadriya. Beliau adalah santri Sunan Kalijaga dan suami Dewi Roso Wulan (adik kandung Sunan Kalijaga). Selain itu, ada makam R. Bagus Mataram, kerabat Kesultanan Mataram. Beliau juga salah satu santri Sunan Kalijaga. Makam-makam tersebut terpisah beberapa meter.

Sepanjang perjalanan pulang, fenomena dua makam untuk satu orang itu menjadi tanda tanya di benak saya. Meskipun umumnya umat Islam mengenal makam Sunan Kalijaga berada di Demak, keberadaan makam Sunan Kalijaga di Bukit Surowiti Gresik tak bisa dipandang sebelah mata. Sebagai jawaban atas pertanyaan ini, saya hanya bisa menyimpulkan, hanya Allah-lah Yang Maha Tahu, wallahu a’lam bishawab. ( Tim tNews.co.Id).

Related Articles

Back to top button