Sejarah

NGULIK KEBENARAN SEJARAH KLASIK KOTA SURABAYA (1)

SURABAYA – tNews.co.id || Sejarah klasik kota Surabaya terus dicari kebenarannya. Belum lama ini Teknik Geofisika ITS menggelar Webinar yang bertajuk “Dimanakah Pabuhan Hujung Galuh? “. Hasilnya disimpulkan bahwa lokasi Hujung Galuh berada di hulu sungai, bukan di bagian hilir seperti yang selama ini diyakini.

Hasil diskusi online ini sekaligus menjadi salah satu koreksi terhadap sejarah klasik kota Surabaya. Lantas, adakah sejarah kota lainnya yang perlu dikoreksi atau yang dianggap tidak benar? Jawabannya adalah ada. Sejarah yang mana itu?

….. Sejarah Kali Wonokromo (Jagir) ……

Cerita sejarah ini sering dikaitkan kaitkan dengan sejarah Hari Jadi Kota Surabaya. Yakni terkait dengan tempat dimana Raden Wijaya beserta prajuritnya berhasil mengusir tentara Tartar dari bumi Jawa, tepatnya di wilayah Surabaya.

Adalah Kali Wonokromo yang merupakan percabangan Kali Surabaya di daerah Jagir. Dari Kali Wonokromo inilah, pasukan Tartar dikisahkan terusir dari bumi Jawa pada 31 Mei 1293. Karena dianggap dari tempat ini, yang termasuk wilayah administratif kota Surabaya, maka peristiwa ini dianggap menjadi sejarah kota yang kemudian dijadikan sebagai latar belakang lahirnya (jadinya) Kota Surabaya.

Cerita sejarah Hari Jadi Kota Surabaya ini sebagaimana terurai dalam buku “Hari Jadi Kota Surabaya” (1975). Meski buku ini sempat diprotes pada saat akan diterbitkan, namun secara diam diam dan terbatas, buku ini lolos ke publik dan selanjutnya dianggap sebagai sumber sejarah Hari Jadi Kota Surabaya. Maklum buku ini memang kumpulan laporan tim peneliti Hari Jadi Kota Surabaya 1975. Diantara tim peneliti ada nama Drs. Heru Soekadri yang kala itu adalah seorang sejarawan, yang juga sebagai Kepala IKIP Surabaya.

Hingga sekarang buku ini masih dianggap sebagai sumber sejarah Hari Jadi Kota Surabaya bagi kebanyakan orang. Tapi tidak demikian bagi sebagian dan kalangan tertentu. Yakni pemerhati dan pegiat sejarah yang benar benar mencermati cerita sejarah kota Surabaya.

Mereka, khususnya yang tergabung dalam Forum Begandring Soerabaia, berhasil menelusuri sejarah kota Surabaya. Apa yang mereka dapatkan adalah adanya ketidak benaran sejarah Hari Jadi Kota Surabaya, khususnya terkait dengan setting (plot) peristiwa pengusiran tentara Tartar oleh Raden Wijaya beserta prajuritnya, yang dikisahkan melalui Kali Wonokromo untuk sampai ke lautan lepaslepas (selat Madura).

Prof. Aminuddin Kasdi, sejarawan UNESA, yang pernah menjabat sebagai Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Jawa Timur, dalam sebuah Webinar yang diselenggarakan oleh Teknik Geofisika ITS pada 26 Juni 2021, menjelaskan bahwa di lokasi pengolahan air PDAM di Jagir, dekat pintu air Jagir, pernah ada sebuah laguna luas yang sekaligus sebagai dermaga kali dimana banyak kapal kapal besar bisa bersandar dan Kali Wonokromo adalah akses untuk menuju ke laut lepas (selat Madura).

Menurutnya, laguna atau pelabuhan ini kala itu bernama Pacekan yang dalam istilah Mongol (Cina) disebut Pat-Shih-Kan. Dalam peta lama kota Surabaya, tempat di mana lokasi pengolahan air PDAM ini, memang tersebut nama Pacekan. Tapi pada peta peta baru, nama Pacekan sudah terhapus.

Namun, jika merujuk pada peta yang menjadi koleksi lembaga arsip Belanda, KITLV, yakni peta yang berangka tahun 1719, di sana tidak tergambar adanya sungai yang menghubungkan antara Kali Surabaya ke laut lepas (selat Madura). Peta ini (1719) tentu menggugurkan cerita sejarah kota Surabaya yang menggambarkan adanya lalu lintas sungai ke sebuah laguna luas di Jagir.

Sementara menurut ahli Teknik Pengairan Jasa Tirta, Raymond Valiant, Kali Wonokromo adalah hasil sudetan yang dibuat pada masa penjajahan Belanda, untuk mengendalikan banjir di Kota Surabaya. Kali Surabaya dibagi alirannya melalui sebuah coupure yang digali pada 1856 dari Wonokromo sampai ke laut, sepanjang hampir 5,6 kilometer. Saluran coupure ini kemudian diberi nama Sungai Wonokromo.

Selanjutnya untuk menyesuaikan perkembangan Kota Surabaya, pada 1912 diputuskan memperbaiki Sungai Wonokromo dan menambah pintu air untuk memisahkan aliran banjir dari Kali Surabaya ke sungai Wonokromo. Pintu ini dinamakan pintu air Jagir dan diresmikan pada 1925.

Anehnya pada 1998, Pemerintah Kota Surabaya dalam menetapkan Pintu Air Jagir sebagai bangunan cagar budaya dengan menceritakan sejarah bahwa tempat ini sebagai pangkalan bersauhnya tentara Mongol yang akan menyerbu Kerajaan Kadiri pada 1293. Tentu cerita sejarah ini tidak sesuai dengan fakta alami dari tempat ini.

Inilah cerita sejarah kota Surabaya yang tidak sesuai dengan fakta dan data yang ada.

(tNews.co.id – Nanang).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button