Sejarah

BIANG KEROK PRO DAN KONTRA TENTANG HUJUNG GALUH

tNews.co.id || SURABAYA – Diskusi masal, viral dan virtual di seputar dimana letak Hujung Galuh semakin ramai.

Ramainya ini seiring dengan munculnya pro dan kontra mengenai letak Hujung Galuh yang diklaim di Surabaya.

Nama Hujung Galuh memang mulai disebut pada 1037 M, tepatnya sebagai inskripsi yang terpahat pada batu prasasti Kamalagyan. Namun nama Hujung Galuh mulai diperkenalkan ke publik Surabaya pada 1975 melalui sebuah buku yang disusun oleh Pemerintah Kotamadya Surabaya dengan judul “Hari Jadi Kota Surabaya, 682 Sura ing Baya”.

Caption Nanang / Salah Satu Bukti Sejarah

Sayang buku yang bagus ini diprotes seiring dengan ditetapkannya 31 Mei 1293 sebagai Hari Jadi Kota Surabaya. Sampai sampai buku yang telah disusun rapi dan siap edar ini tidak jadi didistribusikan.

Mengapa diprotes dan mengapa tidak jadi didistribusikan secara formal?

Namun demikian dan bagaimana pun, buku ini akhirnya tetap saja “beredar” meski secara ilegal melalui tangan tangan tertentu yang memiliki akses terhadap buku itu. Sekali lagi, mengapa diprotes?

Mari diambil salah satu contoh yang barang kali, kala itu, 1975, menjadi latar belakang protes atau kontroversi.

Dalam laporan ilmiah yang ditulis oleh salah seorang tim peneliti, pada alenia pertama, sang peneliti jelas menyebutkan sumber sejarah yang dipakai sebagai dasar dan acuan penulisan laporan ilmiahnya. Yaitu berupa prasasti Kamalagyan (1037).

Dalam alenia ketiga, dituliskan kesimpulan yang diambil berdasarkan pembacaan inskripsi pada baris ke 12. Kesimpulan itu menyatakan bahwa “Hujung Galuh terletak di bagian hilir kali Surabaya setelah dusun Kelagen”. Dusun Kelagen (Kamalagyan) adalah tempat dimana prasasti itu berada.

Kesimpulan inilah yang menimbulkan banyak pertanyaan dan sekaligus akar masalah (biang kerok). Padahal petikan inskripsi baris ke 12 ini berbunyi:
“…..maparahu samaṅhulu maṅalap bhāṇḍa ri hujuŋ galuḥ”,

Artinya: …..berperahu menuju HULU, untuk mencari barang dagangan di Hujung Galuḥ.

Nah, jika sudah jelas bahwa Hujung Galuh pada batu prasasti ditulis berada di HULU sungai, tapi mengapa hasil penelitian ilmiah itu menterjemahkan dan menuliskan bahwa Hujung Galuh berada di HILIR sungai.

Caption Cak Nanang/ Sebuah Buku 682 Tahun Sura Ing Baya

Apalagi dalam kelanjutan penulisan laporan ilmiah itu berisi penjabaran tentang keberadaan Hujung Galuh di Surabaya.

Sekali lagi pertanyaannya adalah mengapa dalam laporan ilmiah itu, keberadaan Hujung Galuh ditulis di bagian HILIR, bukan di bagian HULU sesuai dengan isi prasasti Kamalagyan. Padahal prasasti Kamalagyan ditulis sebagai sumber penulisan.

Inilah sumber masalahnya (biang kerok) sehingga selama 46 tahun warga kota Surabaya mulai kawulo sampai punggowo dipaksa untuk menelan informasi bahwa Hujung Galuh berada di hilir sungai, yang informasi ini terkesan seolah oleh diarahkan ke Surabaya (Hujung Galuh berada di Surabaya).

(tNews.co.id // Nanang)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button